Bersama GSF, Dunia di Tangan Anda

GSF GlobalSkillFasilities merupakan lembaga pelatihan serta pendidikan yang fokus pada pengembangan sumber daya manusia. Dengan mengedepankan kepuasan (satisfaction) serta peningkatan diri (self-improvement) pada setiap peserta pelatihan, GSF bertujuan untuk membantu mengembangkan kualitas individual.

Sulfaedar Pay, Direktur Global Skill Facilities Indonesia.

Sulfaedar Pay, Direktur Global Skill Facilities Indonesia.

GSF turut berperan aktif mendukung pencanangan Makassar kota dunia serta menghadapi AFTA 2010 dengan memberikan pelatihan Bahasa Inggris yang menggunakan pendekatan Three-E (effective, efficient, and enjoyable).

Metode ini terbukti membantu para trainee menguasai bahasa Inggris dengan  nyaman, tanpa beban tetapi mencapai tujuan. Ini sejalan dengan prinsip dasar  GSF “Go-Fast”  yang bermakna membuka wawasan, berfikir cepat untuk perubahan,

Saat ini kebutuhan keterampilan berbahasa Inggris yang sangat besar dapat di jumpai di masyarakat. Tetapi kesadaran akan kebutuhan tersebut yang belum   dirasakan secara total. Pada era mendatang dimana hampir semua bidang dan sektor memerlukan penguasaan Bahasa Inggris.

Baca lebih lanjut

Iklan

Rumah Panggung Van Woloan

UDARA Desa Woloan, Kecamatan Tomohon Tengah, Kota Tomohon, Sulawesi Utara terasa sejuk dan damai. Kiri kanan poros jalan, berdiri puluhan rumah panggung yang tertata apik, rapi dan indah. Ukuran dan modelnya beraneka ragam. Warnanya mempertahankan warna kayu. Tak satupun rumah yang berdiri kokoh itu berpenghuni.

Deretan rumah panggung Woloan di Tomohon, Manado, Sulawesi Utara.

Deretan rumah panggung Woloan di Tomohon, Manado, Sulawesi Utara.

Di dalam rumah mungil 5×6 meter, Djohny Walewangko, 56 tahun sibuk mengecat pintu rumah. Kakek empat cucu ini sedang menyelesaikan rumah panggung kayu pesanan salah satu pembeli dari Negeri Belanda. Lelaki ini mengaku berprofesi sebagai pengrajin rumah panggung.

“Rumah-rumah kayu ini untuk dijual. Bukan untuk tempat tinggal masyarakat Woloan,” kata Djohny.

Rumah tradisional yang di pajangan, dapat dibeli oleh pengunjung dan wisatawan. Ukuran rumah 5×6 meter dijual seharga Rp40 juta, 7×9 meter senilai Rp80 juta. Ukuran paling besar dijual seharga Rp200 jutaan.

Baca lebih lanjut

Nyanyian Bali Purba di Pengotan

Setiap keluarga memiliki sepasang rumah leluhur tempat melepas kerinduan.

ALUNAN —alat musik bambu—terdengar mengalun merdu di antara lebatnya hutan di Dusun Delod Umah, Desa Pengotan, Kabupaten Bangli, Bali. Tangan Nangrai, 68 tahun dan Nangsalin, 49 tahun tampak lincah melompat-lompat di atas potongan-potongan bambu. Tiap nada slendro yang tercipta membuat suasana hati tenang dan damai.

Udara dingin dan semerbak bau dupa membuat alunan terdengar indah di telinga, nada-nada yang tercipta seakan melantunkan nyanyian alam desa.

rumah leluhur di Dusun Delod umah, Pengotan, Bangli, Bali

rumah leluhur di Dusun Delod umah, Pengotan, Bangli, Bali

Dusun Delod Umah lebih dikenal dengan sebutan Pengotan, terletak pada ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut. Berjarak 70 kilometer dari Bandara Internasional Ngurah Rai Bali, sekitar 5 kilometer sebelah selatan Danau Batur atau 15 kilometer sebelah utara Bangli.

Pengotan  berpenghuni 150 keluarga, mayoritas masyarakatnya memeluk agama Hindu, adapun kehidupan sehari-hari masyarakatnya masih menjalankan budaya dan adat istiadat Bali kuno.

Kata Pengotan bermakna Bali Purba dengan tiga mata suci naga barong yakni upacara Ngaben (penguburan), pernikahan massal, dan budaya atau tradisi. “Selama ini yang terkenal hanya Ubud dan Kutai. Kecuali ada tamu nyasar, baru mereka mengenal Pengotan,” kata I Nyoman Nyiarga, 52 tahun, Kepala Dusun Pengotan.

Baca lebih lanjut

Ipad, Mainan Baru Tukang Insinyur

(“SAYA, INTERNET & GAYA HIDUP”)

Jari jemari menari-nari di atas layar ukuran sembilan inci. Gambar peta dan jalanan yang tampak turut bergoyang dinamis dan berputar sempurna mengikuti gerakan jari. Kadang dimiringkan kekanan, kekiri, vertikal dan horisontal.

Apple Ipad, nama komputer layar sentuh yang berbalut selubung kulit berwarna putih gading tersebut. Ipad merupakan komputer dengan teknologi prosesor berkecepatan 1GHz Apple A4. Turut dibenamkan Accelerometer, teknologi yang dapat memutar gambar 180 derajat.


Baca lebih lanjut

Kampoeng Kecap Pecinan Tersohor di Zaman Belanda

Kawasan Pecinan di Kota Angging Mammiri masih menyimpan cerita-cerita yang sangat sedikit diketahui masyarakat pribumi dan warga keturunan. Kampoeng Kecap, salah satu dari kawasan yang pernah ada dan menjadi urat nadi bisnis di zaman penguasaan kolonial Belanda dan Jepang sekitar tahun 1940 hingga 1960 an.

Kala itu Kampoeng Kecap menjadi kawasan perdagangan yang ramai dan memperkerjakan warga pribumi dari beberapa kampung, misalnya Kampung Panampu dan Kampung Ce’ra.

Baca lebih lanjut

Laba-laba Kota Daeng

Kedua tangan dan kaki berpindah dari satu titik ke titik poin lain pada dinding setinggi 15 meter. Tubuh mungil Nurfajrin merayap pelan laksana laba-laba pada dinding yang berdiri dikemiringan 180 derajat.

Gerakan tubuh Fajrin meliuk-liuk, menirukan kemampuan laba-laba yang dapat memanjat dengan aman. Lelaki berusia 20 tahun ini melibas semua poin atau pegangan pada dinding dengan mudah.

Sebuah tali tambang melingkar dipinggangnya untuk menjamin keselamatan jika terjatuh. Sementara Naldi, pelatih pemanjat tebing mengawasi dari bawah sambil memberikan arahan dengan suara lantang. “Ayo lebih cepat, cepat, cepat”. Itu aba-aba yang diberikan sang pelatih.

Puncak dinding yang berbahan multipleks dan fiber ini ditaklukan dalam waktu 18 detik. Mahasiswa Universitas Negeri Makassar ini, berlatih bersama delapan rekan sesama pemanjat tebing di halaman Kantor Bina Marga Jalan Andi Pangerang Pettarani.

Mereka berlatih pada tiga jenis rintangan, yakni dinding speed 15 meter, dinding rintisan 20 meter dan dinding jalur pendek. Mahasiswa Fakultas Olahraga jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga ini tengah berlatih menaklukan dinding perintis.

Dinding panjat tebing ini dibuat meliuk-liuk dengan tingkat kesukaran tinggi, sehingga membutuhkan fisik kuat untuk menaklukkan. Kecintaan pada olahraga panjat tebing dirintis di usia 15 tahun.

Kala itu ia masih duduk di Sekolah Menengah Pertama Negeri III Makassar. Kemampuan memanjat tebing terjal didorong dari kecintaan pada tantangan dan mendaki gunung.

Sejumlah penghargaan kejuaraan panjat tebing lokal dan nasional telah diraih lelaki berkumis tipis tersebut. Diantaranya meraih medali perak di Kejurnas Semarang 2010 ini, medali perunggu di Pomnas I 2009 di Palembang dan medal emas pada kejuaraan dinding speed di Kalimantan Tengah Muara Tewe.

Baca lebih lanjut

Sketcher Dokumentasikan Ikon Kota Daeng

MAKASSAR –

Tangan kanan Anggraini bergerak kesana kemari diatas secarik kertas putih ukuran A3. Ibu jari dan telunjuk memegang ujung pensil. Sedikit demi sedikit terbentuk goresan lurus, melingkar dan bergelombang yang tak beraturan.

Garis demi garis terhubung hingga membentuk sketsa sebuah gambar tubuh manusia. Wanita yang disapa-Anggi ini sedang membuat sketsa Shanti, rekan sesama komunitas Indonesia’s Sketcher yang duduk membelakanginya.

Gedung Museum Kota

Kurang dari 15 menit, sosok Shanti yang mengenakan baju kaos putih berhasil diabadikan. Sketsa memperlihatkan posisi duduk dengan punggung terlihat. Sebuah topi bulat ala koboi dikenakan wanita yang menjadi obyek gambar.

Anggi sangat tertarik dengan sikap duduk Shanti yang juga sibuk membuat sketsa. Hari itu, Minggu (25/7), komunitas sketcher berkumpul di Gedung Museum Kota di Jalan Balai Kota.

Banyak ibu-ibu dan anak-anak menyaksikan kepiawaian sketcher di gedung yang dibangun di masa kolonial Belanda berkuasa. Sebulan sudah mahasiswi Universitas Negeri Makassar ini, bergabung di komunitas Indonesia’s Sketcher.

Menggambar sketsa merupakan aktifitas barunya. Dia terpanggil untuk membuat sebanyak mungkin dokumentasi sketsa gedung, aktifitas manusia dan jalanan. Ia bertekad membuat buku sketsa yang menggambarkan wajah Kota Daeng dari tahun ke tahun.

Baca lebih lanjut