Sketcher Dokumentasikan Ikon Kota Daeng

MAKASSAR –

Tangan kanan Anggraini bergerak kesana kemari diatas secarik kertas putih ukuran A3. Ibu jari dan telunjuk memegang ujung pensil. Sedikit demi sedikit terbentuk goresan lurus, melingkar dan bergelombang yang tak beraturan.

Garis demi garis terhubung hingga membentuk sketsa sebuah gambar tubuh manusia. Wanita yang disapa-Anggi ini sedang membuat sketsa Shanti, rekan sesama komunitas Indonesia’s Sketcher yang duduk membelakanginya.

Gedung Museum Kota

Kurang dari 15 menit, sosok Shanti yang mengenakan baju kaos putih berhasil diabadikan. Sketsa memperlihatkan posisi duduk dengan punggung terlihat. Sebuah topi bulat ala koboi dikenakan wanita yang menjadi obyek gambar.

Anggi sangat tertarik dengan sikap duduk Shanti yang juga sibuk membuat sketsa. Hari itu, Minggu (25/7), komunitas sketcher berkumpul di Gedung Museum Kota di Jalan Balai Kota.

Banyak ibu-ibu dan anak-anak menyaksikan kepiawaian sketcher di gedung yang dibangun di masa kolonial Belanda berkuasa. Sebulan sudah mahasiswi Universitas Negeri Makassar ini, bergabung di komunitas Indonesia’s Sketcher.

Menggambar sketsa merupakan aktifitas barunya. Dia terpanggil untuk membuat sebanyak mungkin dokumentasi sketsa gedung, aktifitas manusia dan jalanan. Ia bertekad membuat buku sketsa yang menggambarkan wajah Kota Daeng dari tahun ke tahun.

Mahasiswi semester empat Fakultas Fisika ini, merupakan pelukis muda. Sudah 16 tahun, wanita berusia 20 tahun ini menekuni seni lukis melukis. Sejak usia empat tahun, ia belajar di Sanggar Seni Ujung Pandang pimpinan Bachtiar Hafid. Ada seratus  piala di bidang seni lukis yang telah dikoleksi.

“Menggambar sketsa terbilang paling sulit, ketimbang melukis. Kita perlu menyimpan ikon Makassar agar tidak dilupakan,” ungkapnya.

Semua karya lukisan dan sketsa, disimpan dan dapat dilihat di akun Anggraini Herman dijejaring sosial facebook. Sehari dia meng-upload dua karya agar disaksikan generasi muda yang ingin mengetahui wajah Kota Makassar.

Kordinator Indonesia’s Sketchers Cabang Makassar, Shanti Yani mengaku komunitas sketcher mulai diminati mahasiswa. Kebanyakan berasal dari jurusan seni rupa dari Universitas Negeri Makassar dan Universitas Muhammadiyah.

Ibu dari Zidan ( lima tahun) ini, bersama sesama sketcher bertekad mendokumentasikan semua gedung dan jalanan. Tekadnya terdorong dari pembangunan kota yang kian pesat dan terus menghilangkan ikon bersejarah.

Dua minggu sekali, ibu rumah tangga berusia 30 tahun ini bersama sketcher mencari ikon kota. Indonesia Sketchers juga dijadikan ajang pertemuan dan mencari ide bagi sesama pehobi ilustrasi, pelukis, dan sketcher.

Sudah 20 peseni gambar dan lukisan bergabung di lembaga kesenian yang berpusat di Kota Jakarta. Benteng Fort Roterdam, Gedung kesenian Society de Harmoni, Pantai Laguna, dan Pantai Biringkassi serta Gedung Museum Kota, telah di dokumentasikan.

Semua ikon bersejarah dibuat dalam bentuk sketsa. Manfaat dari kegiatan komunitas ini untuk melatih kepekaan melihat kondisi pembangunan. Serta menumbuhkan rasa cinta terhadap objek.

Hasil karya para sketcher disimpan di blog Indonesia’a Sketchers Makassar. Termasuk dipajang di sekertariat Dewan Kesenian Makassar yang ada di lokasi Benteng Fort Roterdam.

“Kami fokus dalam pembuatan dokumentasi dan dilakukan dua kali seminggu. Kami ingin mempertahankan ikon kota agar selalu terjadi hubungan batin. Hasil karya akan disimpan dan dijadikan alat pameran,” ujarnya.

Untuk bergabung, persayaratan cukup memiliki komitmen dan kemauan untuk mendekomentasikan obyek penting. Kalau hanya sekedar ikut-ikutan, katanya, tidak akan berguna. (SULFAEDAR PAY)

Belum Ada Perhatian Pemerintah

Pelukis kanvas berbahan tanah liat, Zainal Beta mengharapkan puncak kejayaan seniman Makassar kembali hidup. Di 1978 – 1985, merupakan masa keemasan seniman lukis yang tergabung di Sanggar Seni Ujung Pandang. Seiring berkembangan kota,  seniman kota daeng mulai berguguran.

Kesenian lukis di kota ini pudar disebabkan tidak ada perhatian dari Pemerintah Kota Makassar dan Provinsi Sulawesi Selatan. Diperparah lagi, sistem pendidikan di sekolah dan perguruan tinggi yang hanya mengajarkan teori. Pecinta seni tidak mendapatkan praktek lapangan yang cukup.

Pelukis berjenggot panjang dan dikucir ini, mengharapkan pemerintah memperlihatkan kepedulian. Seniman Kota Makassar meminta disiapkan gedung galeri yang akan menyimpan karya seniman lokal. Termasuk mengagendakan pameran lukisan dan  sketsa dalam ajang pariwisata.

“Banyak bakalan seniman berhenti melukis karena tidak diperhatikan. Kami tidak pernah difasilitasi galeri dan dibuatkan pameran lukisan karya anak daerah,” ujarnya.

Pemerintah diharapkan menjadi pemicu bagi seniman muda berbakat agar bermunculan kembali. Di kota ini, katanya, banyak seniman berbakat yang memiliki kemampuan setara pelukis di kota-kota besar di Jakarta dan Jawa. (SULFAEDAR PAY)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s