Laba-laba Kota Daeng

Kedua tangan dan kaki berpindah dari satu titik ke titik poin lain pada dinding setinggi 15 meter. Tubuh mungil Nurfajrin merayap pelan laksana laba-laba pada dinding yang berdiri dikemiringan 180 derajat.

Gerakan tubuh Fajrin meliuk-liuk, menirukan kemampuan laba-laba yang dapat memanjat dengan aman. Lelaki berusia 20 tahun ini melibas semua poin atau pegangan pada dinding dengan mudah.

Sebuah tali tambang melingkar dipinggangnya untuk menjamin keselamatan jika terjatuh. Sementara Naldi, pelatih pemanjat tebing mengawasi dari bawah sambil memberikan arahan dengan suara lantang. “Ayo lebih cepat, cepat, cepat”. Itu aba-aba yang diberikan sang pelatih.

Puncak dinding yang berbahan multipleks dan fiber ini ditaklukan dalam waktu 18 detik. Mahasiswa Universitas Negeri Makassar ini, berlatih bersama delapan rekan sesama pemanjat tebing di halaman Kantor Bina Marga Jalan Andi Pangerang Pettarani.

Mereka berlatih pada tiga jenis rintangan, yakni dinding speed 15 meter, dinding rintisan 20 meter dan dinding jalur pendek. Mahasiswa Fakultas Olahraga jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga ini tengah berlatih menaklukan dinding perintis.

Dinding panjat tebing ini dibuat meliuk-liuk dengan tingkat kesukaran tinggi, sehingga membutuhkan fisik kuat untuk menaklukkan. Kecintaan pada olahraga panjat tebing dirintis di usia 15 tahun.

Kala itu ia masih duduk di Sekolah Menengah Pertama Negeri III Makassar. Kemampuan memanjat tebing terjal didorong dari kecintaan pada tantangan dan mendaki gunung.

Sejumlah penghargaan kejuaraan panjat tebing lokal dan nasional telah diraih lelaki berkumis tipis tersebut. Diantaranya meraih medali perak di Kejurnas Semarang 2010 ini, medali perunggu di Pomnas I 2009 di Palembang dan medal emas pada kejuaraan dinding speed di Kalimantan Tengah Muara Tewe.

Naldin mengakui kemampuan komunitas pemanjat tebing di Kota Makassar yang masuk urutan kedua setelah Jawa Timur. Kebanggaan Naldin mengajarkan cara memanjat tebing karena komunitas ini diminati mahasiswa.

Mahasiswa Universitas Muslim Indonesia, Universitas Hasanuddin, Universitas Negeri Makassar, dan Sekolah Tinggi Manajemen dan Ilmu Komputer Dipanegara merupakan komunitas terbesar di olahraga panjat tebing.

Mereka datang dari berbagai jurusan dengan satu alasan mencintai tantangan dan rintangan alam. Mantan atlet yang kini berusia 35 tahun ini, bersama komunitasnya aktif mencari atlet baru.

Kegiatan mencari bakat dilakukan melalui program Spyder Kid’s yang membidik usia tujuh sampai 12 tahun. Perlombaan Spyder Kid’s sering dilakukan dengan metode pendekatan dunia kanak-kanak. Anak-anak dihibur dengan musik, pembinaan, dan penuh keceriaan adalah beberapa metode di Spyder Kid’s.

“Kami mencari bakat dari usia dini karena lebih mudah mengajar. Anak-anak harus dibangkitkan jiwa kepemimpinan, keberanian dan kecintaan pada alam melalui panjat tebing,” tuturnya.

Sulawesi Selatan, merupakan kawasan yang memiliki segudang atlet pemanjat tebing profesional. Beberapa diantaranya tergabung dalam Federasi Panjat Tebing Indonesia. Sebagian lagi banyak yang terlibat di tim SAR dan Mahasiswa Pencinta Alam yang tersebar di semua kampus.

Komunitas ini juga aktif mencari bakat di dunia pendidikan setingkat Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas. Tingkat SD sampai SMA, katanya, ada usia yang paling bagus untuk ditempa menjadi atlet pemanjat tebing.

“Dunia kampus sudah banyak memiliki atlet panjat tebing dengan kemampuan yang bagus,” jelasnya.

Komunitas ini juga memiliki jadwal latihan dibeberapa tempat. Latihan fisik dilaksanakan di Lapangan Hasanuddin, latihan teknik memanjat di Halaman Kantor Bina Marga, dan fitness di Gedung KONI Makassar.

Sarana  Belum Mendukung

Merlin Yuninda, mantan atlet panjat tebing era 90 an menyayangkan prestasi demi prestasi yang diraih komunitas panjat tebing tidak mendapat dukungan dari pemerintah. Alumni Sekolah Menengah Atas Negeri I Makassar ini, menyoroti minimnya sarana dan prasarana latihan.

Termasuk papan panjat tebing yang tidak mampu disediakan pemerintah daerah. Untuk menjaga fasilitas yang ada saat ini, katanya, anggaran didapatkan dari kegiatan amal komunitas panjat tebing.

“Sangat sedikit sumbangan pemerintah pada olahraga panjat tebing. Percuma memliki prestasi tinggi, tapi tidak didukung fasilitas dan sarana yang memadai,” katanya.

Tak heran jika setiap turnamen panjat tebing di Jawa dan Jakarta, banyak atlet daerah ini hanya mendapat peringkat dua dan tiga. Menurutnya sarana dan prasarana yang dimiliki daerah lain lebih maju dan moderen.

Wanita yang masih melajang ini mengharapkan bantuan anggaran sarana dan anggaran pembinaan atlet panjat tebing. Dia pesimistis olahraga ekstrim ini dapat berkembang jika tidak ada campur tangan pemerintah.

Asni Nindar, Staf Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin yang juga atlet panjat tebing menyayangkan sikap acuh tak acuh dari pemerintah. Selama ini anggaran pembuatan dinding panjat tebing berasal dari internal komunitas.

Untuk satu papan panjat tebing setinggi 15 – 20 meter membutuhkan anggaran 20 juta. Asni juga menyoroti tidak ada penghargaan terhadap atlet yang meraih sejumlah prestasi lokal, nasional dan internasionl.

“Kami yang berprestasi dilupakan begitu saja. Akhirnya olahraga ini sulit berkembang dan hanya menjadi hobi saja,” ucapnya. (SULFAEDAR PAY)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s