Kampoeng Kecap Pecinan Tersohor di Zaman Belanda

Kawasan Pecinan di Kota Angging Mammiri masih menyimpan cerita-cerita yang sangat sedikit diketahui masyarakat pribumi dan warga keturunan. Kampoeng Kecap, salah satu dari kawasan yang pernah ada dan menjadi urat nadi bisnis di zaman penguasaan kolonial Belanda dan Jepang sekitar tahun 1940 hingga 1960 an.

Kala itu Kampoeng Kecap menjadi kawasan perdagangan yang ramai dan memperkerjakan warga pribumi dari beberapa kampung, misalnya Kampung Panampu dan Kampung Ce’ra.


Kawasan bisnis yang dikuasai taipan Tionghoa, mendapat perlindungan khusus dari Pemerintahan Kolonial Belanda hingga Jepang. Kampung industri kecap dibentuk di zaman Belanda yang tersebar di empat kawasan, yakni Jalan Lembeh, Timor, Sangir dan Ternate.

Waktu itu, Kawasan yang saling berdekatan ini, mendapat restu dari Pemerintah Belanda dengan syarat membayar upeti. Kampoeng Kecap, menjadi tempat pembuatan bumbu masakan, seperti kecap manis, asin, saus lombok dan Tae Chiu (biji kedele vermentasi).

Kampung kecap sudah sangat terkenal saat saya masih kecil sekitar era tahun 50 an dan ramai dikunjungi di saat hari pasar,” ucap nyonya Lie, warga Jalan Ternate.

Kecap Lonceng, industri kecap rumahan yang merintis lahirnya Kampoeng Kecap dan sering dikonsumsi wanita berusia 66 tahun sejak usia kanak-kanak. Kedua orangtuanya sangat akrab dengan Kecap Lonceng karena pabriknya berhadapan dengan tempat tinggalnya yang dulu bernama Jalan Bulekang.

Seiring waktu berlalu, merek Kecap Lonceng berganti nama menjadi Kecap Sumber Baru dan Kecap Sinar. Lokasi pembuatannya juga telah dipindahkan di Kawasan Industri Makassar (KIMA) di Daya.

Sia Cong Beng merupakan saksi hidup yang menyaksikan hiruk pikuk kampoeng kecap di Jalan Lembeh. Kawasan yang dulunya bernama Jalan Pakareppe ini, kata lelaki berusia 75 tahun sangat ramai dikunjungi isteri-isteri pejabat Belanda karena berdekatan dengan Pasar Bacan.

Mantan pengusaha di era 1951 ini sering mengambil pesanan beberapa botol kecap merek Thu Goan untuk dipasarkan di rumahnya yang berhadapan langsung dengan Pasar Bacan. Indsutri rumahan di Jalan Lembeh ini , sudah berdiri sejak ia dan keluarganya merantau ke Makassar sekitar tahun 1942.

Kini rumah pembuatan kecap yang dulu banyak memperkerjakan warga pribumi, berubah menjadi tempat pusat senam. Alumni SMA Hasanuddin era 60 an ini, berharap agar pemerintah menerbitkan buku tentang Kampoeng Kecap.

Saya sering membeli kecap di Jalan Lembeh dan di Jalan Ternate untuk dijual kembali di Pasar Bacan. Sayang kini industri rumahan yang dulu sangat terkenal sudah tutup dan menjadi pusat senam,” tuturnya.

Kecap Hadinata, satu-satunya industri rumahan yang masih bertahan dan terus memproduksi kecap, saus sambal, tomat, dan Tae Chiu hingga sekarang. Industri yang beroperasi di Jalan Timor ini, ditangani Usman Khong, generasi ketiga dari Hadinata.

Produksi kecap dibuat di rumah tinggalnya yang cukup luas dan pengerjaan ditangani langsung sanak saudaranya. Serta dibantu beberapa pekerja lokal yang telah mengabdi bertahun-tahun. Kecap Hadinata sangat diminati pedagang makanan kaki lima dan rumah makan.

Untuk mempertahankan usaha leluhurnya, lelaki berusia 66 tahun ini membuka pabrik kecap skala besar di Kabupaten Gowa. Merek Kecap Hadinata tetap dipertahankan hingga saat ini.

Saya sudah lupa tahun berapa berdirinya pabrik kecap Hadinata. Kami dan beberapa pengusaha kecap di Kampoeng Kecap masih ada hubungan darah,” ungkapnya.

Kini Kampoeng Kecap, tinggal nama dan menjadi kawasan yang dipenuhi rumah tinggal, tempat hiburan, dan rumah toko. Sebagian besar warga Tionghoa kelahiran di atas era 60 an, tidak lagi mengetahui sejarah dari Kampoeng Kecap yang tersohor di zaman penjajahan Belanda dan Jepang.

Masuk Agenda Visit Makassar

Lurah Ende Kecamatan Wajo, Syafruddin I.D berencana memasukkan sejarah Kampoeng Kecap Pecinan dalam agenda kegiatan Sadar Wisata Pecinan. Kampung yang berada di Kelurahan Ende dan Kelurahan Melayu Baru ini, rencananya akan dibawa dalam pertemuan warga Tionghoa Oktober mendatang.

Program Sadar Wisata untuk mendukung kunjungan wisata Makassar 2011 (Visit Makassar 2011) yang dicanangkan Pemerintah Kota Makassar. Selain Kampoeng Pecinan, Lurah Ende juga akan mengangkat wisata kuliner dan sovenir di kawasan pecinan.

Saya sendiri baru tahu kalau dulu ada Kampoeng Kecap di kawasan pecinan. Saya akan memasukkan Kampoeng Kecap dalam pertemuan Sadar Wisata Oktober mendatang,” ucapnya.

Menurutnya, masyarakat masih sedikit yang mengetahui keberadaan beberapa klan taipan Cina di Pecinan. Ada beberapa klan taipan di pecinan, yakni Kapitan Cina, Kapitan Ende, Kapitan Belanda, dan Kapitan Melayu.

Klan Tionghoa ini, katanya merupakan tokoh masyarakat yang sangat dihormati dan pencetus lahirnya kawasan pecinan. Para tokoh Tionghoa ini, kemungkinan yang menguasai perdagang hingga saat ini. (SULFAEDAR PAY)

One thought on “Kampoeng Kecap Pecinan Tersohor di Zaman Belanda

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s