Rumah Panggung Van Woloan

UDARA Desa Woloan, Kecamatan Tomohon Tengah, Kota Tomohon, Sulawesi Utara terasa sejuk dan damai. Kiri kanan poros jalan, berdiri puluhan rumah panggung yang tertata apik, rapi dan indah. Ukuran dan modelnya beraneka ragam. Warnanya mempertahankan warna kayu. Tak satupun rumah yang berdiri kokoh itu berpenghuni.

Deretan rumah panggung Woloan di Tomohon, Manado, Sulawesi Utara.

Deretan rumah panggung Woloan di Tomohon, Manado, Sulawesi Utara.

Di dalam rumah mungil 5×6 meter, Djohny Walewangko, 56 tahun sibuk mengecat pintu rumah. Kakek empat cucu ini sedang menyelesaikan rumah panggung kayu pesanan salah satu pembeli dari Negeri Belanda. Lelaki ini mengaku berprofesi sebagai pengrajin rumah panggung.

“Rumah-rumah kayu ini untuk dijual. Bukan untuk tempat tinggal masyarakat Woloan,” kata Djohny.

Rumah tradisional yang di pajangan, dapat dibeli oleh pengunjung dan wisatawan. Ukuran rumah 5×6 meter dijual seharga Rp40 juta, 7×9 meter senilai Rp80 juta. Ukuran paling besar dijual seharga Rp200 jutaan.

Desa Woloan yang terletak di selatan Gunung Lokon, sudah lama terkenal sebagai desa pengrajin rumah kayu tradisional khas Minahasa. Rumah kayu tanpa ukiran yang dihasilkan pengrajin, terkenal sebagai produk unggulan.

Masyarakat menyebutnya rumah bongkar pasang. Dibuat dari bahan dasar kayu cempaka dan meranti yang berasal dari Kota Palu, Sulawesi Tengah. Kayu Cempaka digunakan untuk membuat rangka dan penyanggah rumah, sedangkan Kayu Meranti dipakai untuk dinding rumah, kamar dan pemisah antar ruangan.

Menurut Djohny, membuat satu unit rumah, membutuhkan waktu dua sampai tiga bulan. Tapi masa tunggu bisa lebih lama jika kayu masih mengandung air. Kayu akan melalui proses pengeringan selama tiga bulan.

Penulis di salah satu rumah panggung di Desa Woloan, Tomohon.

Penulis di salah satu rumah panggung di Desa Woloan, Tomohon.

Kayu yang telah kering sudah bisa dikerjakan untuk membuat rumah panggung menggunakan alat tradisional dan moderen. Satu unit rumah ukuran kecil hanya dikerjakan dua orang. Ukuran terbesar melibatkan sekitar 10 pengrajin.

Kepiawaian pengrajin terlihat dari sambungan antar penyanggah dan rangka yang dibuat presisi. Tidak satu pun celah kosong terlihat disela-sela sambungan kayu.

Pesanan pembeli tidak langsung dikirim, tapi akan melalui proses konstruksi mendirikan rumah. Mula-mula akan dibuat pondasi beton, menyusul mendirikan penyanggah rumah dan lantai. Selanjutnya memasang rangka dinding rumah.

Jika rangka sudah berdiri kokoh, pengerjaan selanjutnya memasang atap dan plafon, kemudian dinding hingga menjadi rumah utuh untuk siap dihuni.

“Biasanya pembeli akan datang lagi untuk melihat rumah yang dipesan. Mereka menaiki rumah beramai-ramai untuk mencoba kekuatan rumah,” ucap Alfred Sangong, 58 tahun.

Alfred yang ditemani Yance, 48 tahun, isterinya menjelaskan, pembeli wajib melihat kondisi dan mencoba rumah. Jika pembeli puas, rumah akan dibongkar dan langsung dikemas rapi untuk siap dikirim.

Persoalan membongkar rumah, ungkap Alfred, membutuhkan waktu enam jam dan dikerjakan cukup enam orang. Biaya pengiriman rumah beserta tenaga pasang ditanggung pembeli minimal Rp30 juta.

“Dalam waktu enam jam perakitan, pemilik sudah bisa memiliki rumah siap huni,” katanya.

Rumah buatan pengrajin Woloan, sudah di ekspor ke Belanda, Perancis dan Australia. Pembeli terbesar masih dari masyarakat Sulawesi Utara dan diantarpulaukan ke pulau Jawa serta Jakarta.

“Pokoknya pengrajin merakit rumah sampai jadi lengkap. Penghuni tinggal menunggu saja,” jelasnya.

Bertahan Ratusan Tahun

MESKI terbuat dari kayu. Rumah bongkar pasang ini bisa dihuni turun temurun. Rata-rata usia rumah panggung Woloan mampu bertahan 80 – 100 tahun. Usia rumah bisa lebih panjang, jika pemilik pandai merawat.

Menurut Alfred, 58 tahun, perawatan rumah tidak terlalu sulit. Semua tergantung ketelatenan pemilik dalam memperhatikan atap. Atap rumah menjadi kunci utama usia rumah.

Umumnya rumah tradisional ini menggunakan atap seng. Atap yang bocor akan membuat air mudah masuk dan akan membuat kayu mudah rusak. Perawatan lain dengan mengecat rumah menggunakan bahan yang baik. Untuk mempercantik rumah, pemilik bisa menggunakan atap genteng dan multiroof.

“Usia rumah tergantung pemilik dalam merawatnya,” jelas Alfred.

Pengunjung Desa Woloan sedang melihat-lihat rumah panggung Woloan

Pengunjung Desa Woloan sedang melihat-lihat rumah panggung Woloan

Niar, 28 tahun, warga Gorontalo yang sedang meninjau rumah kedua yang dipesannya, mengaku puas dengan rumah bongkar pasang miliknya. Rumah pertama yang sudah berusia lima tahun yang ada di Gorontalo ditempatkan di lokasi perkebunan miliknya.

Bagi Niar soal perawatan rumah tidaklah terlalu sulit. Kecuali perawatan rangka penyangga dan rangka ruangan. Untuk pengerjaan yang satu ini, Niar harus mendatangkan tukang untuk memeriksa rumah dengan biaya Rp150 ribu per hari.

Gusti Reza Eka Putra, 51 tahun, wisatawan nusantara sangat kagum dengan kepiawaian pengrajin rumah. Meski tidak memesan rumah, Gusti kagum melihat hasil kerja masyarakat dalam membuat rumah.

“Ini merupakan objek wisata yang mendatang rejeki bagi pembuatnya. Pemerintah harus mendorong dunia usaha,” ucap Gusti.

(SULFAEDAR PAY)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s