BPR Hasa Mitra perketat penyaluran kredit

MAKASSAR :

Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Hasa Mitra mengantisipasi gejolak krisis keuangan global dengan memperketat penyaluran kredit khusus usaha produktif. BPR yang fokus di pembiayaan mikro ini menaikkan bunga pinjaman sebesar 2% dari 21% menjadi 23% per tahun atau 2,76% per bulan efektif dengan masa angsuran 36 – 84 bulan.

Skim kredit baru BPR yang berlokasi di Jl Hos Cokroaminoto tersebut, menyusul kenaikkan bunga pinjaman link cage program atau dana pihak kedua dari bank umum sebesar 15% – 17% dengan dana terserap 20% dari total aktiva. Penyaluran kredit selektif tersebut hanya membidik sektor manufaktur, seperti garmen dan kerajinan.

“Krisis keuangan global tidak berdampak langsung pada BPR Hasa Mitra yang tetap fokus mendanai sektor mikro. Kredit selektif hanya untuk sektor manufaktur khususnya tekstil yang membutuhkan pendanaan besar,” kata I Nyoman Sutartha, Direktur Utama BPR Hasa Mitra kepada Bisnis, Rabu (29/10).

Penerapan sistem selektif tersebut, kata I Nyoman untuk menghindari terjadinya kredit macet termasuk menekan biaya operasional. Cara yang ditempuh itu untuk mempertahankan dan dapat menjual suku bunga yang tidak terlalu tinggi kepada debitur. 

BPR yang memiliki total aset sebesar Rp120,21 miliar tersebut, kata dia juga mengerem penyaluran kredit di sektor perdagangan dan barang campuran. Meski memperlambat penggelontoran dana, namun secara umum penyaluran kredit mikro di Hasa Mitra berjalan normal.

Dia mengaku untuk menciptakan kondisi keuangan mikro lebih agresif maka Hasa Mitra menaikkan bunga deposito sebesar 2,5% dari 11,50% menjadi 13%. Termasuk pemberian voucher belanja bagi nasabah deposito yang menyimpan dana diatas Rp100 juta. Tidak hanya itu BPR dengan pertumbuhan kredit mencapai 78,70% tersebut, gencar mencari dana tabungan.

“Penyaluran selektif kemungkinan berlangsung hingga akhir tahun 2008. Manajemen Hasa Mitra tidak mau mengambil resiko terjadi kredit macet.  Meski begitu kegiatan pengajuan kredit sampai pencairan tetap berlangsung normal,” kata dia.

//Kredit melambat//

I Nyoman menambahkan penyaluran kredit mikro pasca lebaran hanya tumbuh Rp2 miliar, dimana sebelum September 2008 pertumbuhan mencapai Rp6 miliar. Berkurangnya permintaan kredit tersebut, ucap dia tidak lepas dari krisis keuangan global yang berimbas pada kenaikkan suku bunga pinjaman di bank-bank umum.

Penurunan kredit tersebut dapat dilihat dari realisasi per September 2008 yang mencapai 106% atau sekitar Rp101,46 miliar. Bandingkan dengan kwartal kedua sebesar 116% atau tumbuh Rp2 miliar dengan total realisasi mencapai Rp103 miliar.

Meski begitu BPR Hasa Mitra masih tergolong sehat, dimana non performing loan (NPL) 0,21% cross dan net 0,09%, serta load deposit ratio (LDR) 86,67%. Sementara cash likuiditas BPR Hasa Mitra mengalami penurunan dari 13,70% menjadi 12,88%. Ia juga mengaku cadangan likuiditas BPR di tiga bank umum mencapai Rp6,5 miliar dalam bentuk deposito.    

Pertumbuhan kredit Hasa Mitra terbilang paling pesat di cabang Makassar Bahkan menjadikan Hasa Mitra salah satu lembaga keuangan mikro yang menguasai 47,51% dari Rp189,63 miliar penyaluran kredit dari 28 BPR yang beroperasi di Sulsel.

Dari total kredit hingga semester I 2008 mencapai 80%  untuk kebutuhan konsumtif dan 20% produktif. Namun 80% kredit konsumtif tersebut, sebagian besar dilarikan ke sektor produktif.(sulfaedar)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s